Penggerak Kegiatan “Bijak Antibiotik”

Fokus Pada Edukasi Ab

Profesinya sama sekali tak bersinggungan dengan dunia kesehatan, namun aktivitas di luar pekerjaannya sebagai dosen dan peneliti komunikasi di Universitas Indonesia sangat bersinggungan dengan dunia kesehatan. Dia adalah Vida Aulia Budiany Parady (43), penyandang gelar S2 Ilmu Komunikasi yang aktif sebagai motor penggerak pogram Smart Use of Antibiotic (SUA) alias Bijak AB (Bijak Antibiotik) di Indonesia-YOP (Yayasan Orang Tua Peduli). “Bijak AB adalah program kerja sama Yayasan Orang Tua Peduli dan ReAct sejak tahun 2012.

Program ini bertujuan menciptakan lingkungan yang mendukung pencegahan resistensi antibiotik di kalangan internal dan eksternal YOP,” papar ibu dari Andika Fadhila Surataruna (13) dan Nadine Nuralisha Surataruna (9) ini, seraya menjelaskan bahwa program ini bergulir juga di Ghana, Ekuador, Thailand, dan Malaysia. ReAct adalah organisasi nirlaba internasional berbasis di Swedia, giat berkampanye mengenai resistensi AB.

Tujuannya menciptakan lingkungan kondusif untuk lahirnya kebijakan, program, dan kegiatan masyarakat terkait resistensi AB. Adapun visi ReAct adalah menjadikan generasi saat ini dan masa depan memiliki akses pengobatan efektif untuk infeksi bakteri sebagai bagian dari hak mereka akan kesehatan. Sementara program SUA di Indonesia fokus pada salah kaprahpenggunaan AB untuk berbagai penyakit harian yang disebabkan oleh virus, khususnya selesma (common cold) dan diare akut (acute watery diarrhea). Sebab, kenyataannya seperti itu di Indonesia.

“Penggunaan AB sudah sangat salah kaprah, AB sudah menjadi obat sapu jagat alias apa pun sakitnya, antibiotik obatnya,” tukas istri dari Togar Mulia Surataruna (44) ini. Nah, berdasar kesadaran akan fakta bahwa diperlukan sarana penyebaran informasi atau penyadaran masyarakat untuk menggunakan AB secara bijak, YOP yang menaungi program Bijak AB, jelas Vida, bekerja sama dengan ReAct untuk melaksanakan program Bijak AB di Indonesia.