Menghindarkan Anak Dari Kekerasan Seksual

Belakangan ini orangtua sering dibuat khawatir akibat pemberitaan tentang adanya pelecehan dan kekerasan seksual pada anak. Yang membuat getir, kejadiannya sering kali di lingkungan sekolah, tempat yang notabene dipercaya orangtua menitipkan anak anaknya untuk mendapat pendidikan yang layak.

Kejadian ini membuat beberapa kalangan yang peduli mengadakan diskusi agar orangtua, masyarat, dan orang-orang terdekat anak bisa memahami dan merespons dengan tepat apa yang dialami anak. Diskusi diadakan dalam bentuk talkshow dengan tema “Memahami dan Merespons Informasi Anak Dalam Kasus Kekerasan Seksual” di Crowne Plaza Hotel Jakarta (04/03).

Pembicara pertama, Avin Yusro SPsi., MKes., memapar kan, UNICEF telah mengeluarkan Hak Anak, seperti: mendapatkan asuhan dengan penuh kasih sayang dalam keluarga sampai dewasa, pendidikan, kesempatan bermain, mengetahui informasi yang bermanfaat, perlindungan dari bahaya, perlindungan dari pelecehan seksual dan diskriminasi, dihargai dan didengar ketika mengemuka kan pendapat, dan lain-lain. “Jadi, setiap anak sudah selayaknya dilindungi, dan apabila mendapat pelecehan seksual, seharusnya didampingi secara terus-menerus sampai anak terbebas dari traumanya,” ujar Psikolog Anak Kementerian Sosial RI ini.

Berikutnya, Dra. A. Kasandra Putranto, Psi., menjelaskan, pelaku kekerasan seksual adalah 90% yang dikenal oleh anak, yaitu 30% keluarga/relative; 50% orang lain (guru, pengasuh, tetangga); dan 10% tidak dikenal sama sekali. “Korban kekerasan seksual dominan terjadi pada anak lelaki dibanding anak perempuan dan kebanyakan kekerasan seksual dilakukan oleh laki-laki untuk anak laki laki.

Tapi bukan berarti anak perempuan tidak akan menjadi korban. Kita tetap harus berhati-hati, karena pelaku bisa saja mengincar anak yang ia mau. Selain itu, jika anak mengalami kekerasan seksual, harus ditangani oleh orang yang tepat agar anak mau bercerita dan segera dicarikan solusi nya,” papar Psikolog Klinis dan Forensik ini.

Di sesi terakhir, Kamala London, PhD, ahli Psikologi Forensik dari Universitas Tole do, AS, mengadakan simulasi wawancara forensik terhadap anak. “Anak-anak tentunya dapat melapor ke orang dewasa mengenai kejadian yang dialaminya. Namun pada intinya, jika anak mengalami pelecehan seksual, sebaiknya dibawa ke psikolog forensik agar menemukan fakta yang telah dialami oleh anak tersebut.”