Indahnya Danau Bratan di Bali

Indahnya Danau Bratan di Bali – Udara dingin khas pegunungan makin terasa menusuk tulang. Setelah mencuci muka seadanya dengan air di wastafel yang saat disentuh terasa dinginnya seperti air es lalu saya membangunkan keempat rekan. Kami menginap di salah satu bungallow sebuah resor yang terletak di tepi Danau Bratan. Sebuah telaga diketinggian 1400 mdpl yang pernah disebut Huffington Post sebagai salah satu dari 20 danau terelok di dunia. Keindahan telaga yang juga terlukis cantik di lembaran uang seri 50 ribu rupiah ini dikenal sebagai “Danau Gunung Suci”.

Letaknya ada kaldera Gunung Bratan Purba dan merupakan danau terbesar kedua di Pulau Dewata. Meski kerap berkabut, keindahan parasnya dapat Anda rengkuh sepanjang hari. Turis-turis umumnya bertandang sejak siang hingga sore hari. Lantaran enggan bercampur dalam kehirukan kami datang lebih dini. Hasrat terpendam ingin menyesap heningnya fajar menjadi alasan kami memilih bermalam di tepi danau. Setidaknya kami bisa menghemat waktu tidur ketimbang bermalam di kantung wisata semacam Kuta-Legian ataupun dipusat Kota Denpasar. Walau sejujurnya energi kami pun masih belum seutuhnya terkumpul akibat minimnya waktu tidur.

Ikon Pulau Dewata
Saat membuka pintu. Udara dingin langsung menyeruak dan merasuk hingga tulang. Pagi hari seperti ini suhu di Bedugul bisa menurun drastis hingga dibawah 15 derajat. Kami lalu merapatkan jaket tebal dan berjalan menuju Komplek Pura Ulun Danu Bratan yang terletak di sebelah kanan resor. Enaknya kami tak perlu repotrepot berputar melalui gerbang utama yang menghadap Jalan Raya Candi Kuning.

Pun siapa menjamin pintu areal peribadatan itu sudah terbuka sepagi ini. Menginap di Enjung Beji Resort, satu-satunya penginapan di tepi danau Bratan ini memang memberi dua keuntungan. Selain hemat waktu karena bercokol tak jauh dari bibir telaga. Resor ini juga memiliki akses langsung ke pura yang jadi ikon pulau dewata itu. Meski dipagari tembok tinggi. Ada dua gerbang penghubung berbentuk gapura selebar dua meteran yang dibiarkan terbuka. Setelah melewati sebuah taman bunga yang sepi. Samar-samar nampak dua bangunan pura menjorok ke tengah danau.

Meski masih temaram bentuknya yang khas dengan model atap bersusun seperti tercitra di aneka pamflet wisata itu langsung dikenali. Perlahan sinar mentari kemerahan mulai merona dari balik bukit-bukit hijau di belakangnya. Siluet meru (menara bertingkat) menyerupai pagoda nampak mulai memancarkan aura magisnya. Inilah pura yang disebut paling fotogenik di tanah Bali itu. “Wow, Berkali-kali kalimat itu terucap di bibir memandangi apa yang tersaji di depan mata.

Hari ini cuacanya lumayan bagus, biasanya sering berkabut, Ujar Pak Made Sutamba pengemudi mobil sewaan yang ikut menemani di pagi yang dingin itu. Pria paruh baya nampaknya cukup mengenal keberadaan pura ini. Layaknya wikipedia berjalan ia berceloteh segala hal. Dari penuturannya terungkap bahwa Pura Ulun Danu berasal dari kata “Ulun” yang berarti hulu serta Danu yang berarti danau. Sehingga secara harfiah dapat diartikan sebagai Pura yang terletak di hulu sebuah danau (Bratan). Keberadaan danau ini sebagai sumber air bagi pertanian di sekitarnya menempatkan peran pura ini sebagai pusat spiritual dalam sistem subak (organisasi sosial yang mengatur irigasi) di kawasan Bedugul. Pura yang terletak di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan ini diyakini berdiri sejak tahun 1633.

Sejarahnya terlacak dalam lontar kuno Babad Mengwi. Adalah I Gusti Agung Putu pendiri Kerajaan Mengwi yang menginisiasi pendirian tempat pemujaan Dewa Siwa dan Dewi Parwati (Dewi Kesuburan) di tepi telaga. Ada beberapa bangunan pelinggih (pemujaan) di dalam komplek ini. Dua di antaranya berjejer menjorok ke tengah danau. Yang lebih dekat ke tepian berukuran sekitar empat kali lebih tinggi. Wujudnya adalah meru bertumpang (atap berlapis) 11. Pura itu disebut Palebahan Pura Tengahing Segara. Sedangkan yang terujung berwujud lebih rendah dengan jumlah 3 tumpang. Bangunan ini disebut Palebahan Palinggih Lingga Petak. Konon di dalamnya terdapat sumur kramat yang menyimpan Tirta Ulun Danu.

Saya terhipnotis sekian lama memandangi kedua bangunan meru yang nampak begitu agung ini. Tak lama baru tersadar kedua kaki rasanya seperti batang kayu yang kaku akibat mematung terlalu lama di cuaca dingin. Saya lalu menggerakgerakan kaki agar tak semakin terkujur. Sambil mengusir dingin saya berjalanan menapaki pedestrian beton yang paralel dengan bibir telaga. Suasana sekitarnya begitu hening. Tak ada seorang pun yang terlihat lalu lalang.

Pedestrian ini menggiring saya berpindah ke sisi selatan di mana pemandangan ternyata tak kalah menariknya. Sekarang panorama kedua meru bergeser ke sebelah kiri saya. Mentari yang bersinar dari arah samping memapar bangunan meru berwarna kekuningan. Memunculkan gradasi artistik yang memamerkan dimensi arsitektur Bali yang sangat fotogenik. Air danau yang sedang pasang menghadirkan imaji Pura terlihat seperti mengapung. Tak lama kabut perlahan terangkat dari atas danau, membuka tabir pemandangan di baliknya yaitu hutan berbukit yang hijau. Di kejauhan nampak kawanan burung – burung yang sepertinya baru terbangun dari peraduan bersautan dan beterbangan seakan ingin menyapa matahari. Sungguh suguhan atraksi alam yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Nggak sia-sia kita datang sepagi ini. Ujar Andre, kawan seperjalanan yang tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Puas memandangi pura kemudian saya berjalan terus ke arah selatan hingga langkah terhenti di ujung pedestrian yang ternyata buntu.

Di dekat bibir danau nampak terongok beberapa sampan kayu. Perahu-perahu berwarna warni itu dibiarkan berjejer paralel sepanjang tepian. Sebagian besar disandarkan di dermaga beton yang berhadapan dengan parkiran kendaraan di sebelah komplek Pengunjung pura biasanya menyewa perahu-perahu ini untuk berkeliling danau. Ujar Pak Made. Karena masih pagi tak ada aktifitas berarti. Saya hanya sempat melihat sebuah sampan mengitari telaga. Samar-samar di atasnya terlihat dua pelancong dengan ditemani seorang pendayung. Sampan itu dikayuh perlahan ke tengah danau hingga perlahan tak terlihat lagi karena tertelan kabut yang tebal.

Saya lalu berjalan kembali ke arah taman di samping pura. Sambil mengayunkan langkah saya membiarkan udara pegunungan yang segar memenuhi rongga paru-paru. Bagi manusia kota seperti saya menghirup keindahan pagi seperti ini tentulah momen yang langka. Saya tenggelam dalam kenikmatan loka di tepi telaga yang begitu menghanyutkan. Perlahan hangatnya sinar mentari mulai merayapi tubuh. Menampik hembusan angin dingin yang membekap. Satu persatu petugas kebersihan muncul memulai rutinitas pagi. Sebentar lagi bus-bus wisata akan berdatangan. Tentu dalam sekejab terbentuk keramaian layaknya kawasan wisata lain. Saya pun segera beranjak. Saatnya mengucapkan selamat menginspirasi bumi untuk semesta. Semoga bersua kembali sang fajar di tepi Telaga Bratan.

Danau ini terletak di jalanan utama Bali Selatan menuju Utara. Tepatnya di Jalan Raya Candi Kuning-Bedugul Km 51, Kabupaten Tabanan. Jika ingin naik kendaraan umum ada bemo yang berangkat rutin dari terminal Batubulan di Denpasar. Namun jika Anda ingin tiba pagi hari tentu saja menyewa kendaraan (roda dua atau empat) adalah opsi terbaik. Dari Denpasar jaraknya 70 kilometer atau sekitar 2-3 jam berkendara (tergantung kemacetan jalan). Idealnya Anda menginap di sekitar Danau Bratan jika ingin mengaksesnya saat fajar. Salah satu penginapan yang direkomendasi adalah Enjung Beji Resort.

Kalau saya perhatikan, kebanyak hotel di bali menggunakan genset solar merek Yanmar dan tipenya silent. Hal ini pastinya membuat saya penasar dan saya pun menanyakan hal ini pada karyawan hotel tempat saya menginap.

Dia mengatakan, Yanmar lebih banyak menggunakan lantaran harga terbaru genset yanmar 15 kva di Bali lebih murah daripada merek lainya. Terlebih lagi Yanmar ini suaranya ketika mesin sedang bekerja tergolong rendah dan tidak menyebabkan polusi suara.